Ragam Ilmiah untuk Karya Ilmiah

October 31, 2010

Hakikat Karya Ilmiah Secara umum, karya ilmiah didefinisikan sebagai tulisan yang mengungkapkan buah pikiran, yang diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian, atau peninjauan terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan sistematika tertentu, dan yang isi serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Ditinjau dari segi bentuk dan fungsinya, karya ilmiah dapat dibedakan ke dalam sepuluh jenis. Pertama, laporan, atau tulisan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran saran untuk dilaksanakan, seperti laporan Praktik Pengalaman Lapangan dan Laporan Praktikum. Laporan ini disampaikan dengan cara seobjektif mungkin. Kedua, makalah, atau tulisan yang dibuat mahasiswa sehubungan dengan tugas dalam bidang studi tertentu, seperti hasil pembahasan buku atau hasil suatu pengamatan. Ketiga, kertas kerja adalah tulisan yang berisi prasaran, usulan, atau pendapat yang berkaitan dengan pembahasan suatu pokok persoalan, untuk dibacakan dalam rapat kerja, seminar atau simposium. Jenis karya keempat adalah skripsi, yakni karya tulis yang diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana. Istilah skripsi berasal dari kata description yang berarti menggambarkan dan membahas suatu masalah dengan memaparkan data serta konsep-konsep dari studi literatur yang relevan untuk menghasilkan kesimpulan. Skripsi ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan. Kelima, tesis, yakni karya tulis dengan tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Istilah tesis berasal dari kata synthesis (sinthation) yang bermakna dasar perpaduan. Jika skripsi bertujuan mendeskripsikan ilmu, maka tesis bertujuan mensintesiskan ilmu yang telah diperoleh dengan temuan dalam penelitian guna memperluas khazanah ilmu yang ditekuni. Keenam, disertasi, atau karya ilmiah yang diajukan untuk mencapai gelar doktor, yaitu gelar tertinggi yang diberikan oleh suatu univesitas. Berbeda dengan penulisan skripsi atau tesis yang hanya bersumber dari data penelitian dan pustaka saja. Data dalam disertasi lebih lengkap karena diperoleh dari tiga sumber sekaligus, yaitu penelitian lapangan, penelitian laboratorium serta kajian pustaka. Karya ilmiah juga dapat berbentuk resensi, atau karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah buku. Resensi, yang juga dikenal dengan istilah timbangan buku (book review) sering disampaikan kepada pembaca melalui surat kabar atau majalah untuk memberi pertimbangan dan penilaian secara objektif, sehingga masyrakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut patut dibaca atau tidak. Karya ilmiah lainnya adalah kritik (bersal dari kata Yunani kritikos yang berarti `hakim’), yaitu karya tulis yang berisi penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya. Bentuk karya ilmiah kesembilan adalah esai, atau karya tulis yang relatif pendek dan membahas suatu subyek (masalah) dari sudut pandang pribadi penulisnya. Permasalahan yang disoroti dalam sebuah esai biasanya dibatasi dan pada penggunaan ‘sudut pandang‘ penulis sebagai titik tolak pembahasan membuat opini penulis berperan sentral dalam sebuah esai. Karya ilmiah juga bisa berbentuk artikel ilmiah, yaitu karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati. Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Sehubungan dengan itu, semua laporan penelitian, termasuk skripsi dan tesis, sangat potensial untuk ditulis ulang menjadi artikel untuk diterbitkan dalam jurnal. Meskipun jenis karya ilmiah cukup beragam, terdapat lima ciri khas yang membedakannya dengan ragam tulisan lainnya, seperti puisi atau novel, yakni accurate, brief, clear, ethical, dan logical (disingkat dengan ABCEL). Pertama, karya ilmiah bersifat akurat (accurate), dalam pengertian bahwa keterangan yang diberikan didasarkan pada data faktual dan dapat diuji kebenarannya. Kedua, karya ilmiah bersifat ringkas (brief) atau, tidak boleh bertele-tele. Bahasa dalam karya ilmiah bersifat lugas atau denotatif serta mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang berlaku, dan kata atau ungkapan bermakna ganda atau multi tafsir harus dicegah dalam karya ilmiah. Ketiga, karya ilmiah harus jelas dan tuntas (clear). Semua segi yang berkaitan dengan masalah dipaparkan secara proporsional. Keempat, tulisan ilmiah harus ditulis secara etis (ethical), dalam arti mengikuti secara ajeg notasi ilmiah seperti pencantuman sumber pendapat apabila dikutip dari sumber lain dengan cara menyebutkan nama sumber data atau informasi secara jujur. Kelima, karya ilmiah bersifat logis (logical), dengan menggunakan cara berpikir analitik, deduktif atau induktif. Dengan demikian, semua keterangan yang digunakan untuk mendukung setiap ide yang dikemukakan mempunyai alasan yang masuk akal. Pada saat melakukan analisis dan mengambil kesimpulan, penulis tidak dipengaruhi oleh keperpihakan atau emosi. Struktur Karya Ilmiah A.-PENDAHULUAN Di dalam pendahuluan terdiri atas: Latar belakang masalah Bagian ini digunakan untuk membahas suatu objek yang menjadi inti penulisan. Inti bagian ini adalah topik atau pokok permasalahan yang akan dipaparkan Masalah dan batasannya penulis harus secara eksplisit mengemukakan masalah yang hendak dibahas. Sebab pada bagian latar belakang, masalah yang hendak dibahas biasanya tidak dikemukakan secara eksplisit. Meskipun demikian, masalah yang hendak dibahas atau diteliti itu masih harus dibatasi lagi. Hal ini dilakukan agar pembahasan tidak meluas kepada aspek-aspek yang tidak relevan. Selain itu, pembatasan masalah juga akan menjaga efektivitas penulisan. Tujuan dan manfaat Kemukakan tujuan dan manfaat penelitian yang dikerjakan. Sedapat mungkin dijabarkan keduanya, baik bagi lingkungan akademis maupun masyarakat secara umum. Metode Pengumpulan dan Analisis Data menjelaskan bagaimana data dapat diperoleh dan teknik apa yang digunakan untuk menganalisis Landasan Teori Tiap kajian ilmiah mempunyai dasar teoritis yang kuat. Pada umumnya, penentuan teori yang hendak dipakai akan lebih mudah jika karakteristik data yang diperoleh sudah dipahami. B.ISI Setelah bagian pendahuluan, penulisan dilanjutkan dengan memaparkan informasi atau data yang telah diperoleh. Sub dari bagian isi biasanya tergantung pada ruang lingkup masalah. Bila masalah yang hendak dibahas terdiri dari tiga butir, sub bagian isi bisa menjadi tiga. Jangan sampai empat apalagi lima, mengingat pada bagian isi, penulis harus melakukan analisis berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada bagian pendahuluan. C.PENUTUP Sebagai penutup, pada bagian ini peneliti harus memberi simpulan dari hasil penelitiannya. Simpulan tersebut harus disajikan secara sederhana dan singkat agar pembaca bisa lebih menangkap hasil penelitiannya secara ringkas. Salah satu bagian yang tampaknya masih banyak digunakan sebagai sub-bagian dari penutup ialah saran. D.UNSUR-UNSUR LAIN DAFTAR PUSTAKA Setelah bagian penutup, karya tulis diakhiri dengan Daftar Pustaka atau Bibliografi. Bagian ini termasuk bagian yang penting karena sebuah karya ilmiah biasanya menggunakan referensi-referensi pendukung. Tidak ada batasan minimal maupun maksimal dalam penggunaan referensi. Namun, ini bukan berarti bahwa peneliti bisa seenaknya mencantumkan referensi. Referensi yang terlalu sedikit bisa menandakan peneliti tidak banyak membaca literatur pendukung atau hasil penelitian terkait.Referensi harus dilakukan wajar dan seperlunya saja dan tata cara penulisan bibliografi pun harus diperhatikan. JUDUL Judul tulisan ilmiah merupakan tema yang menggambarkan secara singkat tentang masalah. Judul harus dirumuskan secara jelas, singkat, relevan dengan isi tulisan. Dengan kata lain, judul harus mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas dan provokatif atau mempunyai daya tarik yang cukup kuat hingga merangsang pembaca untuk membaca. ABSTRAK Abstrak juga merupakan bagian penting lain yang perlu diperhatikan. Abstrak merupakan suatu bagian uraian yang sangat singkat, jarang lebih panjang dari enam atau delapan baris, dan digunakan untuk menerangkan kepada para pembaca aspek-aspek mana yang dibicarakan mengenai pokok permasalahan (Keraf 1984). Pada umumnya, abstrak merangkum isi tulisan yang mencakup masalah, tujuan, metode, dengan tekanan utama pada hasil kegiatan ilmiah. Rangkuman itu biasanya disusun dalam satu paragraf yang diketik dengan jarak satu spasi. Abstrak pada umumnya diikuti tiga hingga lima kata kunci, yang terdiri dari istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dalam artikel. PRAKATA Digunakan untuk memberi gambaran singkat mengenai karya tulis yang digarapnya. Penyajiannya harus dilakukan dengan variasi yang kreatif, agar tidak dianggap menjiplak bagian latar belakang masalah pada pendahuluan. PROSES PENULISAN KARYA ILMIAH Menulis merupakan aktivitas yang tahapan prosesnya berbeda-beda di antara seorang penulis dengan penulis lain. Meskipun demikian, terdapat beberapa tahapan logis yang perlu ditempuh untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Dalam praktik penulisan, tahapan-tahapan itu tidak ditempuh secara linier, melainkan melompat-lompat dengan gerakan maju dan mundur dari satu tahapan ke tahapan lain. Oleh karena itu, Gardner dan Johnson (1997) menggambarkan aktivitas menulis sebagai suatu proses yang cair yang terdiri dari delapan tahapan dan berlangsung—disadari atau tidak oleh penulis—bolak- balik atau melompat-lompat ke depan dan ke belakang. TAHAPAN PENULISAN KARYA ILMIAH Kedelapan tahapan menulis yang diusulkan Gardner dan Johnson (1997) adalah sebagai berikut. 1. Pra-menulis (prewriting), yang terdiri dari dua jenis aktivitas, yaitu: (a) tahapan penggalian dan pengayaan ide yang dapat dilakukan melalui perenungan (brainstorming), membaca bahan pustaka yang relevan, pembuatan peta pikiran; dan (b) penentuan karakteristik pembaca target, tujuan dan bentuk tulisan, 2. Pembuatan draf awal, atau penuangan ide ke atas kertas. Dalam tahapan ini penulis tidak perlu merisaukan konvensi atau kaidah-kaidah penulisan. Draf awal tidak perlu harus diulis rapi. Yang penting ide-ide yang telah terakumulasi dalam pikiran dapat mengalir dan dituangkan ke lembaran kertas. 3. Pembacaan ulang, yang dilakukan untuk mengoreksi draf awal dan menuliskannya ke dalam bentuk yang memenuhi kaidah-kaidah penulisan. 4. Pemeriksaan mitra bestari (share with a peer revisor), yang dilaksanakan dengan meminta seseorang membaca naskah yang sudah ditulis ulang untuk mengidentifikasi kelemahan (struktur, kosa kata, pengutipan, kejelasan ide, tatabahasa) untuk melakukan perbaikan. 5. Revisi (revise), atau perbaikan ulang terhadap naskah dengan cara menambah atau mengurangi detil pendukung dan hal-hal lain yang teridentifikasi melalui pemeriksaan mitra bestari. 6. Pengeditan (editing) atau perbaikan teknik penulisan dan ejaan. 7. Penulisan naskah akhir (final draft), atau penulisan naskah akhir. 8. Penerbitan (publishing), atau pengiriman naskah ke redaktur jurnal untuk diterbitkan. Sumber : – http://parlindunganpardede.wordpress.com/2010/10/01/109/http://www.google.co.id/http://id.wikipedia.org/wiki/Karya_ilmiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: